Tuesday, October 29, 2024

PENGETAHUAN DAN KEHANCURAN PERADABAN BARAT

Oleh: Muhammad Plato

Jika dibanding makanan, pengetahuan seperti makanan. Pengetahuan memiliki nutrisi yang bisa meningkatkan kualitas pemikiran, berdampak pada tindakan-tindakan yang membawa manfaat bagi manusia. 

Sedikitnya, para ahli pikir dari Finlandia mengatakan, pengetahuan yang baik harus memiliki tiga nutrisi, yaitu to know, to do, dan to value. Pengetahuan yang baik membawa pesan kepada penerimanya menjadi tahu tentang sesuatu. 

Setelah dari apa yang telah diketahuinya penerima pesan harus bisa mengetahui apa yang harus dilakukannya (to do). Pengetahuan yang dimilikinya bisa menjadi pengetahuan yang mendorong seseorang berprilaku baik atau sebuah keterampilan hidup. 

Ketika seseorang telah tahu sesuatu, dan mengerti apa yang harus dilakukannya, orang itu mengetahui dan menerima manfaat dari yang diketahuinya (to value). 

Di era teknologi informasi, manusia harus punya keterampilan memilah pengetahuan. Bukan hanya pengetahuan yang mengandung kebenaran, tetapi pengetahuan tersebut bisa membawa seseorang pada kehidupan bahagia.

Kasus, Genosida pada masyarakat Palestina yang sampai saat ini belum berakhir, menjadi reflleksi besar untuk umat manusia, bahwa selama ini kita telah mengonsumsi pengetahuan yang tidak bermanfaat untuk kesejahteraan manusia.

Pengetahuan empiris dan rasional berdasarkan pada alam dan hasil pemikiran manusia, telah membawa petaka bagi kehidupan manusia. Pengetahuan itu tidak berhasil melahirkan manusia-manusia berprikemanusiaan. Peradaban dunia sedang menuju kehancuran. 

Seperti diprediksi oleh Fritjop Capra, dunia barat saat ini sedang berada di puncak dan menuju kehancuran. Arnold Toynbe mengatakan sebuah peradaban akan mengalami rise and decline. Barat mau tidak mau, suka tidak suka, akan menerima takdir yang sudah ditetapkan Tuhan. 

Siklus jatuh bangunnya peradaban dijelaskan dalam kitab suci Al Quran. Pola siklus itu kita pahami dengan urutan: binasa, teguh, binasa, teguh (generasi baru). Peradaban timur sedang bangkit menjadi generasi baru yang akan diteguhkan. 

Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyaknya generasi-generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu), telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain. (Al An'aam, 6:6).

Puncak kehancuran peradaban Barat, ditandai dengan menurunnya penghargaan pemimpin-pemimpin peradaban pada rasa kemanusiaan. Mereka kehilangan rasa cinta kasih pada sesama manusia. Egoisme sebagai bentuk ketuhanan pada diri sendiri mendorong sika mereka lebih mengutamakan kekayaan dan kekuasaan dari pada nyawa manusia.

Rasionalisme yang dibangun bersama empirisme telah mengantarkan manusia menjadi gila kekuasaan dan harta benda. Sifat-sifat kemanusiaan telah menghilang dari jiwanya. Cepat atau lambat takdir Tuhan sudah ditetapkan. 

Di era informasi dengan berjuta-juta informasi yang bisa kita akses, pengetahuan menjadi barang tidak berharga. Kecerdasan manusia era informasi adalah mampu memilih pengetahuan seperti makanan yang akan dikonsumsi. Pengetahuan yang akan dikonsumsi harus memiliki tiga nutrisi yaitu to know, to do dan to value (kesejahteraan umat manusia).***



  

Tuesday, October 22, 2024

PRABOWO SUBIANTO ABRAHAM LINCOLN NYA INDONESIA

Oleh: Muhammad Plato

Setiap kejadian tidak ada yang luput dari kehendak Allah. Kehendak Allah bisa kita baca dalam setiap kejadian. Gunung meletus, banjir, kekeringan, kelaparan, semua atas kehendak Allah dan bisa kita baca apa sebab-sebabnya. 

Untuk membaca kehendak Allah, kita harus mencari tahu dari informasi kitab suci. Al Quran saya gunakan untuk mencari kehendak-kehendak Allah pada setiap kejadian. Al Quran banyak mengandung informasi dan hikmah yang bisa kita gunakan untuk memahami setiap kejdian di muka bumi ini.

Pada tanggal 20 Oktober 2024, bangsa Indonesia telah melantik Prabowo Subianto sebagai presiden ke-8. Prabowo Subinato dikenal sebagai tokoh yang telah mengalami kegagalan dalam pemilihan presiden. Dikutif dari Tempo.co untuk menjadi presiden terpilih, Prabowo mengalami empat kali kegagalan.

Tidak mudah bagi setiap orang bisa mengalami kegagalan apalagi berkali kali gagal. Banyak orang takut gagal karena gagal mengandung beban mental cukup berat. Dengan hermenitik kita bisa merasakan jiwa Prabowo Subinato mengelola jiwa tetap tegar, optimis tidak putus asa saat berkali-kali mengalami kegagalan dalam pemilihan pemimpin tertinggi republik ini. Nyinyir, hinaan, lecehan, reaksi dari berbagai pihak yang tidak bertanggunggjawab harus diterima dengan hati lapang.

Namun demikian, kegagalan sebenarnya adalah anugerah Tuhan. Kegagalan menjadi ujian berat atau "penganiayaan" yang harus dilalui setiap orang untuk mencapai cita-cita. Prabowo Subianto berhasil melaluinya dan itulah kehendak Allah yang akan terjadi pada setiap umat manusia.  

Kisah kegagalan, ujian berat, dapat kita temukan pada pemimpin-pemimpin besar di dunia. Sukarno, Nelson Mandela, Napoleon Bonaparte, mereka tokoh-tokoh inspiratif bagi dunia karena berhasil mencapai puncak kepemimpinan setelah melewati masa-masa ujian berat dalam hidupnya. 

Kisah Prabowo Subianto mengingatkan kita pada kisah Presiden Amerika Serikat ke-16. Tercatat dalam sejarah dia adalah Presiden Amerika Serikat yang sebelumnya mengalami kegagalan berkali-kali. Kisah ini kini dialami oleh Prabowo Subianto di Indonesia.

Dari survey yang diterbitkan oleh University of Huston, survey menunjukkan Abraham Lincoln sebagai pemimpin terhebat di Amerika Serikat. Abraham Lincoln dinilai sebagai presiden terhebat dengan skor rata-rata 93,9/100, diikuti oleh FDR (90,8), Washington (90,3), Theodore Roosevelt (78,6), Thomas Jefferson (77,5), Harry Truman (75,3), Obama (73,8), Dwight Eisenhower (73,7), Lyndon Johnson (72,9) dan John F. Kennedy (68,4).

Berkaca dari kisah Abraham Lincoln, Prabowo Subianto dengan kematangan jiwa, kenegarawanan, dan pengalaman panjang jadi seorang pejuang, berpotensi menjadi pemimpin terhebat sekelas Lincoln. Kenegarawan Prabowo Subianto diawali dengan merangkul semua pihak untuk membangun kejayaan bangsa Indonesia bersama-sama.

Inilah kehendak Allah bagi siapa saja yang dikhendaki Allah menjadi pemimpin. "Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi, (Al Qashshas, 28:5). 

Allah menghendaki seseorang menjadi pemimpin hebat kepada mereka yang telah mengalami berbagai cobaan kesulitan hidup hingga dia dalam kondisi teraniaya. Belajar dari kisah Abraham Lincloln dan Prabowo Subianto, kegagalan demi kegagalan yang berubah menjadi penganiayaan hidup, sesungguhnya adalah kemulian yang dikehendaki Allah kepada pada diri seseorang ketika diri seseorang dikehendaki Allah menjadi seorang pemimpin.

"Sesungguhnya Kami mewarisi bumi dan semua orang-orang yang ada di atasnya, dan hanya kepada Kami lah mereka dikembalikan (Maryam, 19:40).***  

Wednesday, October 2, 2024

KARAKTER ORANG SHALAT

Oleh: Muhammad Plato

Shalat adalah ritual berdoa dalam ajaran Islam. Ritual shalat ditandai dengan kegiatan ruku dan sujud. Ritual shalat membedakan pemelik Islam dengan ajaran-ajaran agama lain. Di dalam setiap gerakan shalat selalu ada bacaan-bacaan doa yang diajarkan dari hadis Nabi Muhammad SAW.

Namun demikian, jika dikaji dari sumber Al Quran, shalat membawa dampak pada pola pikir, ucapan, dan tindakan seseorang. Shalat menjadi pembentuk karakter setiap penganut agama Islam. 

Informasi bahwa shalat memiliki dampak pada pembentukkan karakter seorang muslim, dijelaskan di dalam Al Quran. Shalat mencegah seorang muslim dari kekejian dan kemunkaran. Shalat menjaga seorang muslim dari karakter-karakter buruk.

"Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah adalah lebih besar. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Al Ankabuut, 29:45).

Salah satu ciri dari karakter seorang muslim yang shalat dijelaskan secara spesifik di dalam Al Quran. Ayat ini memberikan gambaran bagaimana secara psikologis manusia akan terjebak pada sifat-sifat buruk, tetapi tidak akan terjadi pada orang-orang tertentu. 

Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya, dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa, (Al Ma'aaru, 70:19-25).

Karakter orang shalat dijelaskan sebagai sosok yang tidak berkeluh kesah dan tidak kikir. Dalam kondisi apapun orang shalat akan tetap menjaga shalatnya dan di dalam hartanya selalu ada hak orang lain baik mereka yang minta maupun yang tidak meminta. 

Pribadi-pribadi muslim selalu optimis karena dia berprasangka baik pada Allah. Shalat melatih pikirannya selalu fokus pada Allah karena pada setiap gerakan shalat selalu diingatkan dengan kata Allahu Akbat artinya fokus pada Allah.***