OLEH: MUHAMMAD PLATO
Manusia sudah ditakdirkan
Allah akan mengalami berbagai permasalahan hidup. Allah berfiman, “Sesungguhnya
Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah. (Al Balad, 90:4). Ketetapan
ini berlaku pasti bagi seluruh manusia dipenjuru manapun. Masalah adalah
kesulitan-kesulitan manusia dalam memenuhi segala kebutuhan hidupnya. Masalah
berikutnya adalah kesulitan manusia dalam menjaga keimanannya kepada Allah
dalam segala kondisi.
Hati dan pikiran manusia
selalu terjebak pada hal-hal yang bersifat materi. Ketika dihadapkan pada
masalah manusia kadang fokus pada pertolongan-pertolongan dari selain Allah. Padahal
Allah penolong manusia dalam segala masalah yang dihadapinya. Untuk itu banyak
manusia yang terjebak melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak diperintahkan
Allah, seperti fokus meminta pertolongan pada sesama manusia, benda-benda yang
dikeramatkan, ilmu-ilmu sihir, teknologi, dan ilmu-ilmu tentang keduniawian,
padahal hakikatnya semua masalah Allah yang menyelesaikannya. Manusia sering
melampau batas, dengan berprasangka bahwa seluruh permasalahan hidup hanya dapat
diselesaikan karena kemampuan yang ada pada dirinya.
Allah berfirman, “dan yang
menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk,” (Al A’laa, 87:3).
Semua ketentuan hidup dan petunjuk hidup ada dalam kekuasaan Allah. Seluruh
gerak dan upaya manusia dalam menyelesaikan masalah hidupnya tidak lepas dari
petunjuk dari Allah. Masalah besar manusia adalah menjaga kesadaran bahwa Allah
pemilik segala tindakan yang dilakukan manusia. Manusia dalam segala
tindakannya hanya berserah diri kepada Allah. Seluruh kreatifitas dan segala
yang diciptakan manusia semuanya berdasarkan pada kadar yang telah ditetapkan dan
petunjuk Allah.
Ketika kita dihadapkan pada
suatu permasalahan, sesunguhnya bagi orang-orang yang berserah diri kepada Allah,
akan ingat Allah dan fokus memohon pertolongan pada Allah. Sabar dan shalat
adalah tata cara yang diajarkan Allah ketika manusia ingin mendapat pertolongan
Allah. “Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan
(mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali
bagi orang-orang yang khusyuk, (Al-baqarah, 2:5). meminta pertolongan pada
Allah adalah pekerjaan berat bagi mereka yang tidak yakin, namun bagi mereka
yang total yakin bahwa Allah penyelesai masalah, sabar dan shalat adalah
pekerjaan mudah karena punya keyakinan haqul yakin Allah sebagai penyelesai
masalah, dan tidak akan ada yang melebihi Allah.
Nabi Muhammad saw ketika
menghadap Perang Badar, jika melihat fakta sejarah Perang Badar, tidak aka nada
satu orang pun dapat menyangkan bahwa pasukkan Nabi Muhammad saw yang jumlahnya
hanya sepertiga dari jumlah musuh akan memenangkan peperangan. Maulana Muhammad
Ali, (2015, 143) menjelaskan, “pasukan muslimin hanya 313 melawan 1000 orang
bersenjata lengkap. Sejumlah hlm. 313 sebagian pasukkan itu pikirannya tidak
meyukai kondisi peperangan ini karena mereka berprasangka bahwa dalam perang
ini mereka akan binasa. Hal ini direkam dalam Al-Qur’an, “sesunguhnya sebagian
dari orang beriman tidak menyukainya, … seolah-olah mereka dihalau kepada
kematian,…” (Al-Anfal, 8:5-6).
Selanjutnya Mulana Muhammad
Ali (2015, hlm. 143-145) menjelaskan bahwa pasukan kecil kaum muslimin ini
direkrut secara terburu-buru dengan persenjataan seadanya, lalu berjalan ke
luar kota kea rah Mekah untuk mengecek serangan gencar kaum Quraisy karena
tidak diperbolehkan bertempur di dekat rumah di Madinah. Sementara pasukan
musuh adalah tentara terlatih, dari kaum muslimin terdiri dari atas anak-anak
muda yang belum berpengalaman. Pasukan musuh dilengkapi persenjataan dna baju
rantai dengan lengkap. Mereka memiliki ratusan pasukan kuda dan didukung dengan
700 unta. Pasukan kuda dan unta kaum muslimin tidak lebih dari 72 ekor saja.
Perang Badar adalah peperangan
yang unik, karena pasukan yang lemah bisa mengalahkan kekuatan yang besar. Hasilnya
pemimpin-pemimpin pasukan musuh tebunuh, sebanyak 70 pasukan musuh binasa, dan
70 orang ditawan. Sementara dari kaum muslimin 14 orang terluka dan meninggal.
Kemenangan dari kaum yang
dipandang lemah ini dikabarkan dengan indah dalam Al-Qur’an, “Sesungguhnya
telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur). Segolongan
berperang di jalan Allah dan (segolongan) yang lain kafir yang dengan mata
kepala melihat (seakan-akan) orang-orang muslimin dua kali jumlah mereka. Allah
menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya pada
yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati.
(Ali Imran, 3:13).
Kisah ini mengandung pelajaran bagi yang memiliki mata hati (liulil abshar). Tidak ada masalah yang paling berat yang dihadapi Nabi Muhammad Saw ketika mengemban tugas kerasulannya. Nabi Muhammad saw sangat waspada pada saat itu dan berdoa untuk mengembalikan segala kekuatan kepada Allah. “ya Allah akankah Engkau mencelakakan pasukan kecil ornag-orang beriman ini menjadi binasa hari ini. Jika demikian, tidak akan seorang pun di bumi ini yang akan menyembah Engkau dan mengemban risalah-Mu ke dunia”. (Maulanan Muhammad Ali, 2015 hlm. 144).
Salah satu pelejaran penting dari kejadian Perang Badar adalah tidak ada yang melebihi kekuatan Allah. Bagi orang-orang beriman yang terlihat lemah sesungguhnya keimanan kepada Allah yang lurus akan menguatkan kondisi yang lemah. Mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat, buktikan bahwa Allah akan menguatkan dan menyelesaikan semua masalah. Wallahu’alam.
No comments:
Post a Comment