OLEH: MUHAMMA PLATO
Allah menciptakan dua
alam yaitu aalam dunia dan akhirat. Dunia bersifat fana, rusak, kusam, keriput,
hancur, musnah, temporer, dan sementara. Akhirat bersifat kekal, baku, tetap,
pasti, dan selamanya. Allah mengabarkan beberapa penghuni akhirat dengan
beberapa kharakter yang dapat kita ketahui dari kitab suci Al-Qur’an.
SEMUA PERKATAANNYA BAIK
Manusia-manusia
berkarakter akhirat semua pekrataannya tidak ada yang sia-sia. Perkataan yang
tidak sia-sia adalah ucapan-ucapan yang semuanya mengandung unsur doa, berampak
positif, menyenangkan, mengarah pada kerukunan dan perdamaian.
“Mereka tidak mendengar
di dalamnya perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan yang menimbulkan
dosa, akan tetapi mereka mendengar ucapan salam.”
(Al Waaq’ah, 56:25-26).
Perkataan baik adalah
perkataan yang mengandung kualitas doa, rasa syukur, terimakasih, pujian, dan kekaguman,
terhadap segala kegiatan dan kejadian. Setiap
perkataan dalam kualitas doa, tidak ada yang sia-sia.
SABAR DAN SHALAT
Dan mintalah pertolongan
(kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang
demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, (Al Baqarah,
2;45).
Manusia berkaratker
akhirat tampil dengan tenang, karena pribadinya sudah terbentuk jadi
pribadi-pribadi sabar. Kesabarannya dibangun bukan menahan amarah, tetapi
memahami dari logika tuhan bahwa keburukan bukan datang dari luar dirinya,
tetapi dari dalam diri atas dasar apa yang dirasakan, dipikirkan, dan dilakukannya.
Shalat adalah karakter
manusia akhirat. Shalat tidak menghasilkan keuntungan langsung dalam wujud
materi, namun shalat bisa mengarahkan karekter manusia untuk menghargai waktu,
disiplin, optimis, dan memotivasi untuk melakukan segala sesuatu dengan ikhlas
dan tidak fokus pada keuntungan material.
Shalat jika dikaji dari
sains neurologi, adalah membentuk pola pikir baku dalam membangun harapan. Shalat
adalah proses pembekuan pola pikir agar menjadikan satu Tuhan sebagai tempat
berharap. Tuhan yang tidak mati, tidak beranak, tidak berwujud materi, tidak
berbapak dan tidak beribu. Pembekuan pola pikir ini untuk menjaga agar
optimisme hidup tetap hidup dalam segala kondisi.
SELALU OPTIMIS
Optimisme hidup lahir
dari harapan baik. Optimisme bisa tetap ada jika pikiran menerima informasi
positif. Informasi positif bisa di dapat jika seseorang melakukan hal-hal
positif. Manusia berkarakter akhirat melakukan tindakan-tindakan yang berlandaskan
pada keterangan dari akhirat.
Setan adalah makhluk yang
hidup dengan logikanya sendiri, tanpa dipandu dari Tuhan. Seoptimis-optimisnya
setan dia pesimis. Informasi akhirat selalu menawarkan kepastian terhadap balasan
perbuatan baik. Optimis tanpa batas, bisa terjadi jika pikiran kita punya
patokan baku dan kepastian. “dan hanya
kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (Alam Nasyraah, 94:8).
BERMANFAAT
Manusia bermanfaat itu
tertuang dalam informasi akhirat, bahwa manusia-manusia terbaik adalah mereka
yang menyisihkan sebagian hartanya untuk orang-orang yang membutuhkan. Kebermanfaatan
manusia terhadap manusia lain, menjadi keunggulan dari manusia akhirat.
Manusia bermanfaat tidak tergantung pada material. Manusia
bermanfaat selalu memosisikan diri sebagai pemberi bukan penerima. “(yaitu)
mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan
sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka,” (Al Baqarah, 2:3)
PEKERJA KERAS
Manusia berkarakter
akhirat tidak pernah mengenal putus asa. Selalu menciptakan pekerjaan dan
mengerjakan segala sesuatu dengan penuh kecintaan dan keikhlasan. Setiap
pekerjaan yang dilakukan selalu menghasilkan harapan. Manusia dengan karakter
akhirat tampil sebagai sosok pekerja keras dan bergerak tanpa batas.
Dorongan untuk menjadi
pekerja keras, bersumber dari prinsip bahwa perubahan tidak akan menjadi takdir
dirinya, jika perubahan tidak dilakukannya sendiri. Tuhan sudah menetapkan, “Sesungguhnya
Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang
ada pada diri mereka sendiri. (Ar Rad, 13:11).
MEMBALAS KEBURUKAN
Manusia berkarakter
akhirat membalas keburukan dengan kebaikan. Baginya hidup hanya dua pilihan antara
baik dan lebih baik. Sekalipun manusia diberi pilihan membalas keburukan seimbang,
manusia berkarakter akhirat akan membalas keburukan dengan kebaikan.
Membalas keburukan dengan
keburukan hanya akan mempersulit diri untuk keluar dari keburukan. “Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan
yang lebih baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan.” (Al
Mukminuun, 23;96).
Orang-orang sukses di
dunia memiliki karakter akhirat. Maka bisa dipahami jika hadis mengatakan, “fokuslah
pada akhirat, dunia akan mengikutimu”. Artinya jadilah manusia-manusia
berkarakter akhirat. wallahu'alam.
(Head Master Trainer
Logika Tuhan)
No comments:
Post a Comment