Oleh: Muhammad Plato
Iran dalam membela kedaulatannya tidak akan pernah ada kata menyerah. Nasionalisme bangsa Iran bukan bersumber dari nasionalisme kesamaan nasib atau budaya. Nasionalisme Iran dibangun atas dasar keyakinan pada ajaran agama, bersumber dari Al Quran.
Cara beragama orang Iran memiliki ciri khas. Mereka meniru karakter Ali bin Abi Thalib. Kita bisa saksikan karakter dari empat sahabat Nabi Muhammad memiliki keunggulan masing-masing. Abu Bakar berkarakter lembut, Umar Bin Khattab berkarakter keras dan tegas, Usman bin Affan berkarakter dermawan, dan Ali Bin Abi Thalib berkarakter sangat cerdas.
ebook memahami pola pikir Al Quran menjadi rahmat bagi alam
Iran termasuk mengikuti karakter Ali bin Abi Thalib dalam beragama. Kecerdasan dalam beragama menjadi ciri khas bagi masyarakat Iran. Kondisi ini terlihat dalam model keberagamaan orang Iran yang sangat adaftif dengan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Para sahabat terdekat Nabi Muhammad memiliki keunggulan masing-masing. Ali bin Abi Thalib termasuk sahabat Nabi Muhammad yang ahli dalam memahami dan menjelaskan Al Quran. Ali bin Abi Thalib termasuk keluarga Nabi Muhammad yang mendapat asuhan langsung dari Nabi Muhammad.
Oleh karena itu, Al Quran bagi masyarakat Iran selain sumber ajaran etika dan moral dalam beragama, mereka juga menjadikan Al Quran sebagai sumber gagasan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Moralitas keberagamaan orang Iran terlihat kuat tergambar dari prilaku para pemimpinnya.
Siapa orang Iran, karakternya bisa dilihat dari apa yang diajarkan Nabi Muhammad dalam Al Quran. Dalam membela tanah air, masyarakat Iran dapat digambarkan dalam Al Quran sebagai bangsa berkeyakinan pada Tuhan dengan mengikuti apa yang diajarkan Nabi Muhammad dalam Al Quran.
Orang Iran sangat beriman pada Al Quran, sebagaimana dicontohkan para pemimpinnya. Di dalam Al Quran dijelaskan.
"Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). Barang siapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahanam. Dan amat buruklah tempat kembalinya." (Al Anfaal, 8:15-16).
Inilah motivasi dorongan para pemimpin dan rakyat Iran dalam menghadapi agresi negara lain. Perlawanan dilakukan untuk menjaga kedaulatan negara. Inilah gambaran rakyat Iran menjadi kompak dalam membela kedaulatan negara.
Negara-negara Muslim di Timur Tengah, seperti Palestina, Arab Saudi, Mesir, Yaman, memiliki keunggulan masing-masing. Dalam konteks agresi militer Amerika Serikat ke Iran saat ini, kita perlu belajar dari Iran bagaimana mempertahankan kedaulatan negara dari agresi negara lain.
Umat Islam membutuhkan kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual, untuk menterjemahkan Al Quran dalam konteks kekinian. Al Quran sebagai sumber pemikiran, tidak mengotak-ngotakan manusia menjadi satu kelompok ekslusif, tetapi menjadi masyarakat inklusif dengan semangat persaudaraan dan kasih sayang, saling tolong menolong dalam kebaikan, dan saling menghargai hak asasi manusia.***

.jpg)