Oleh: Muhammad Plato
Serangan Amerika Serikat pada Iran, membawa inspirasi untuk dua miliar penganut agama Islam. Jika kita refleksi kembali ke Al Quran, ternyata selama 1400 tahun kita telah berada diujung neraka. Keberagaamaan kita telah menyimpan sifat-sifat tidak terpuji yang dilarang Allah.
Selama 1400 tahun secara tidak dasar kita telah mewariskan sifat-sifat iblis dalam beragama. Perselisihan dan saling benci menjadi bagian dari umat beragama. Iblis adalah musuh yang sangat berbahaya. Mereka mendatangi setiap anak Adam dari depan, belakang, kiri, dan kanan.
"kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur". (Al A'raaf, 7:17).
Tidak ada satu orang manusia pun yang luput dari godaan iblis. Mereka bisa masuk ke dalam pikiran bawah sadar dan membelokkan keyakinan kepada Allah menjadi kepada aliran, kelompok, dan tradisi nenek moyang. Keyakinan kepada Allah secara tidak sadar berubah menjadi keyakinan pada hawa nafsu.
Rasa benci dan dengki dibalut ajaran agama menjadi emosi yang mudah tersulut adu domba. Akal sehat tidak berfungsi karena hati sudah menyimpan prasangka buruk dan dengki. Pikiran lebih fokus pada hal-hal buruk dibanding hal-hal baik.
Siapapun yang berada di luar kelompoknya selalu dicurigai dengan prasangka buruk. Padahal seluruh makhluk ditakdirkan oleh Allah sesuai dengan fitrahnya. Fitrah iblis adalah membawa manusia kepada hal-hal buruk. Malaikat fitrahnya membawa sifat-sifat takwa. Manusia diciptakan sempurna dengan fitrah membawa sifat buruk dan baik, tetapi diberi ilmu oleh Allah bisa memilah baik dan buruk dengan akalnya.
Allah menurunkan Al Quran dengan ilmu Nya kepada Nabi Muhammad melalui perantara malaikat Jibril. Al Quran adalah ilmu dari Allah dan dianugerahkan pada manusia sebagai pedoman hidup. Allah memerintahkan pada manusia untuk beriman pada Al Quran.
Nabi Muhammad, para sahabat, dan para ulama, bukan pemilik kebenaran, tetapi penyampai kebenaran dan pembawa kabar gembira. "Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak akan diminta (pertanggungjawaban) tentang penghuni-penghuni neraka". (Al Baqarah, 2:119).
Al Quran adalah kebenaran, berisi kabar gembira dan peringatan. 1400 tahun kita mengabaikan Al Quran karena telah membesar-besarkan perselisihan antar kelompok atau aliran. Di dalam Al Quran Allah mengabarkan untuk menghindari peselisihan dengan mengembalikan kebenaran milik Allah.
"Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: "Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik. Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia." (Al Israa, 17:53).
Seandainya kita beriman kepada Al Quran, seharusnya tidak ada perselisihan diantara umat beragama, karena perselisihan ditimbulkan dan dibesarkan oleh sifat-sifat buruk dari setan. 1400 tahun kita terjebak dalam perselisihan dan menimbulkan perpecahan. Inilah bukti betapa berbahayanya iblis karena mereka bisa masuk pada hati dan pikiran alam bawah sadar manusia.
Saatnya kita kembali kepada Al Quran, kita kembali kepada Allah dan mengikuti apa yang dikehendaki Allah dalam menjalani kehidupan di muka bumi. Allah melarang umat manusia bercerai berai, dan menghendaki persatuan.
"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk." (Ali Imran, 3:103).
Seandainya, umat manusia benar-benar beriman kepada Allah, Al Quran, dan Rasulullah, hati mereka pasti akan menjadi umat yang satu, karena taat pada perintah Allah. Kecuali orang-orang yang disesatkan setan dan tercerai berai karena masing-masing merasa bangga dengan kelompok-kelompoknya.
"Kemudian mereka menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing)". (Al Mukminuun, 23:53).
1400 tahun sudah kita berada di tepi jurang neraka karena perselisiahan dibalut rasa dengki dan benci yang kita pelihara. Saatnya kita kembali berpegang pada tali Allah, memohon ampun dan menjadi umat bersyukur dengan memelihara persaudaraan sesama umat sebagaimana Allah melarang kita bercerai berai.***