Oleh: Muhammad Plato
Bencana adalah musibah bagi umat manusia. Pertanyaannya apakah musibah dari Allah atau akibat dari ulah manusia? Jika kita kaji kabar dari Al Quran, ada dua sudut pandang diajarkan Allah pada manusia.
Dua sudut pandang ini sekaligus mengajarkan gaya komunikasi antar sesama manusia agar manusia tidak saling berburuk sangka, dan saling menyalahkan antar sesama.
Sudut pandang pertama, ketika melihat musibah berupa bencana alam menimpa orang lain, maka kita harus mengatakan bahwa bencana sesungguhnya datang dari sisi Allah. Tidak boleh kita mengatakan bencana alam yang menimpa saudara kita datang dari mereka yang ditimpa bencana.
"Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendati pun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: "Ini adalah dari sisi Allah", dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: "Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)". Katakanlah: "Semuanya (datang) dari sisi Allah". Maka mengapa orang-orang itu hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikit pun?" (An Nisaa, 4:78).
Dalam sudut pandang pertama, Allah mengajarkan bahwa sesuatu yang menimpa orang lain hanya Allah yang tahu penyebabnya. Ketika kita mengatakan bencana yang terjadi akibat dari kesalahan mereka yang ditimpa bencana, maka kita telah berprasangka buruk pada orang lain.
Berprasangka buruk pada orang lain sangat dilarang oleh Allah. Jika suatu kejadian menimpa orang lain, kita tidak tahu secara pasti penyebabnya maka segala sebab kejadian harus dikembalikan kepada yang maha tahu yaitu Allah swt. Kita tidak boleh menghakimi apa yang terjadi pada orang lain, karena kita tidak tahu pasti apa penyebabnya.
Gaya komunikasi pada sudut pandang pertama Allah menjaga orang-orang berakal tetap menjaga sudut pandangnya tidak buruk. Inilah gaya komunikasi santun, membawa kedamaian, dan tidak akan terjebak perpecahan karena saling salah menyalahkan antar sesama karena terjadi musibah.
Dalam sudut pandang kedua, Allah mengajarkan gaya komunikasi pada kaum yang ditimpa musibah bencana. Musibah bencana yang terjadi pada diri mereka pasti mereka sendiri yang tahu penyebabnya, karena mereka sendiri yang mengalaminya. Gaya komunikasi ini, Allah ajarkan kepada Rasullullah sebagai teladan untuk seluruh umat manusia.
"Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi." (An Nisaa, 91:79).
Allah mengajarkan kepada mereka yang tertimpa musibah bencana, untuk tidak mengatakan bencana datang dari sisi Allah. Mereka yang ditimpa bencana harus melakukan refleksi diri sehingga mereka tahu apa sebab-sebab terjadinya musibah bencana.
Sudut pandang ini berkaitan dengan ayat Al Quran yang mengatakan bahwa manusia diciptakan dari dua sifat yaitu buruk dan baik. Atas dasar itu, keburukan hakikatnya melekat pada diri setiap manusia.
"dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya," (Asy Syams, 91:7-8).
Maka ketika sebuah kaum tertimpa bencana, semangat kebersamaan harus tetap terjalin dengan tidak saling berburuk sangka, tetapi sebagai kaum yang beriman kepada Tuhan mereka harus bahu membahu memperbaiki diri. Sebagaimana Allah ajarkan bahwa perubahan ke arah lebih baik tidak akan terjadi tanpa perubahan dari kaum itu sendiri.
"...Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia." (Ar Ra'd, 13:11).
Begitulah Allah mengajarkan pada orang-orang berakal dalam menyikapi sebuah musibah bencana. Sungguh Allah maha benar dengan segala firmannya.***